Archives

now browsing by author

 

Pembentukan Karakter Generasi Muda Melalui Program IAYP (International Award for Young People)

Arundati Shinta

Leader IAYP/ Dosen Fakultas Psikologi Universitas Proklamsi 45

Yogyakarta

MOU - IAYP - Copyjump up

Akhir-akhir ini kita semua tentu diresahkan oleh berita-berita yang menyesakkan dada seperti tawuran remaja dan mahasiswa, penipuan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya. Mau jadi apa generasi muda kita? Generasi muda sudah mengawali nasibnya dengan perilaku buruk. Apakah generasi muda yang tidak tersangkut dengan berita-berita negatif itu akan terjamin masa depannya? Belum tentu juga. Hal ini karena para orangtua di Indonesia belum memperhatikan persiapan pembentukan aspirasi karir untuk anak-anaknya semenjak usia dini. Persiapan yang lazim dilakukan oleh orangtua Indonesia adalah memacu prestasi akademiknya dengan mengikutkan anak-anaknya dalam suatu kursus. Kursus yang lazim diikuti yaitu bahasa Inggris, musik, dan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Kursus-kursus itu berlangsung sepulang sekolah bahkan sampai malam hari. Anak menjadi tidak sempat mengembangkan potensi diri, dan karakternya.

Ketika generasi muda ini sudah lulus sekolahnya, kemudian mencari pekerjaan atau melanjutkan studi lanjut, maka pada umumnya mereka merasa kesulitan. Banyak perusahaan menginginkan sarjana yang karakternya baik, namun para pencari kerja kesulitan untuk membuktikannya. Organisasi pemberi beasiswa terutama di luar negri menginginkan calon mahasiswa yang tangguh dan disiplin karakternya, namun calon mahasiswa itu kesulitan untuk membuktikannya. Bekal mereka hanya secarik sertifikat bahasa Inggris saja. Sertifikat bahasa Inggris itu juga belum menjamin pemiliknya mempunyai kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni.

Kesulitan-kesulitan para generasi muda Indonesia dalam membuktikan ketangguhan karakternya terjadi karena mereka pada umumnya belum mempunyai kebiasaan-kebiasaan untuk menjadi SDM unggul. Mereka tidak terbiasa mengisi waktu untuk kegiatan yang produktif secara teratur dan terukur. Mereka juga mempunyai pengaturan diri (regulasi diri) yang rendah. Artinya orang-orang muda itu masih harus diingatkan terus-menerus untuk melakukan sesuatu yang baik. Seolah-olah orang muda itu tidak mempunyai kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang baik demi persiapan masa depannya. Agar orang-orang muda itu tergerak untuk merancang masa depannya, maka mereka harus mengubah karakternya menjadi karakter unggul. Bagaimana cara mengubah karakter?

Secara psikologis, perubahan karakter membutuhkan waktu yang lama, minimal 6 bulan (untuk tingkat perunggu). Dalam jangka waktu 6 bulan tersebut, individu didorong untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik sehingga karakternya menjadi kuat. Proses pembentukan karakter itu tentu saja harus diiringi dengan proses monitoring dan umpan balik dari orangtua / wali. Agar proses monitoring lancar, maka para orangtua / wali harus mampu menjadi suri tauladan perilaku bagi anak-anaknya.

Perubahan dan penguatan karakter secara praktis dapat dilakukan berdsarkan sistem pendidikan di Inggris. Mengapa kita harus bercermin pada sistem pendidikan di Inggris? Sistem pendidikan di Inggris secara konsisten telah menerapkan program IAYP (International Award for Young People), dengan tokohnya HRH The Duke of Edinburg (Pangeran Philip, suami dari Ratu Elizabeth II), dan Dr. Kurt Hahn. Program ini berdiri pada tahun 1956 dan kini telah tersebar paling sedikit di 162 negara. Program IAYP ini hanya untuk anak-anak muda usia 14-25 tahun saja. Orang-orang muda di seluruh dunia yang pernah mengikuti program IAYP, mempunyai karakter kuat. Begitu kuatnya karakter itu merasuk para generasi muda, sehingga hal itu bahkan tercermin pada raut mukanya. Mereka menjadi SDM yang jauh lebih unggul daripada orang-orang muda yang tidak mengikuti program IAYP. Berikut adalah penjelasan secara lebih rinci tentang program IAYP (McMenamin, 2011; Shinta, 2013).

FENOMENA TOM AND JERRY : Renungan Seorang Leader Terhadap Perilaku Peserta IAYP

Arundati Shinta

Leader IAYP / Dosen Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

a shinta

Mental kuat dalam menghadapi tangisan peserta IAYP (International Award for Young People) yang terputus kegiatannya dan harus mengulang lagi semenjak awal, adalah tantangan bagi para leader. Tantangan selanjutnya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu mendampingi peserta dalam menjalankan seluruh rangkaian kegiatan IAYP. Definisi operasional meluangkan waktu bisa ditujukan bagi para peserta, maupun bagi para leader sendiri. Bagi peserta, meluangkan waktu berarti leader harus memotivasi peserta untuk terus melakukan kegiatan IAYP secara tekun dan jangan sampai terputus. Bagi para leadersendiri, meluangkan waktu berarti ia harus berani menjadi suri tauladan perilaku atau menjadi model. Jadi para leader sebenarnya juga harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan IAYP meskipun hal itu dilakukan secara informal.

Berbagai problem muncul dalam penyelesaian kegiatan IAYP. Problem itu bermuara dari kurangnya komitmen peserta dalam mematuhi jadwal yang dibuatnya sendiri, dan juga bisa muncul dari para leader. Problem yang muncul dari para leader adalah berkaitan dengan rasa frustrasi menghadapi peserta yang tidak patuh terhadap jadwalnya sendiri. Dampaknya adalah para leadermerasa bahwa peserta menyepelekan jerih payah leader. Ketika hal itu terjadi maka para leaderharus sering bertanya pada diri sendiri, “Untuk apa saya terlibat dalam kegiatan IAYP? Bukankah lebih menguntungkan secara nyata (finansial) bila saya terlibat dengan kegiatan pekerjaan utama daripada kegiatan IAYP yang sifatnya suka rela ini? Apabila peserta IAYP terputus kegiatannya sehingga mungkin karakternya terbentuk secara kurang ideal, apa peduli saya? Kalau peserta memang menginginkan hidupnya gagal serta tidak mau diatur hidupnya, bukankah itu salah mereka sendiri? Kalau peserta mau bekerjasama dan berkomunikasi dengan saya, maka saya bersedia membimbing mereka. Kalau mereka rendah komitmennya terhadap IAYP, mungkin lebih baik saya mengundurkan diri saja dari posisi sebagai leader. Bijaksanakah keputusan saya? Apakah saya juga akan mengundurkan diri dari posisi sebagai leader meskipun peserta yang saya hadapi adalah anak saya sendiri atau asisten saya yang terkasih (orang terdekat)?”.

Tujuan tulisan ini adalah untuk mencari hakekat dan makna seseorang bersedia terlibat dalam pekerjaan suka rela seperti IAYP demi pembentukan karakter unggul generasi muda. Tulisan ini ditujukan terutama bagi para leader dan peserta IAYP, serta orang-orang yang berminat dalam hal pembentukan karakter. Berikut adalah penjelasan tentang IAYP, problem-problem yang muncul seputar pelaksanaan IAYP yang berkaitan dengan fungsi leader sebagai pendamping peserta IAYP.

Apa IAYP itu? IAYP merupakan program khusus untuk orang-orang muda usia 14-25 tahun. Tujuan program itu adalah membentuk karakter unggul, sehingga para peserta IAYP dapat menghadapi era kompetisi global dengan lebih percaya diri. Apa saja karakter unggul tersebut? Setelah mengikuti program IAYP, seseorang diharapkan mempunyai karakter seperti jujur, hatinya baik (suka menolong), mempunyai ketrampilan yang dapat diandalkan, berani menghadapi risiko yang sifatnya medium, dan bersedia menjaga kebugaran fisik.

Kegiatan dalam program IAYP yaitu fisik, ketrampilan, pelayanan masyarakat, kegiatan spesialisasi (fisik, ketrampilan, atau pelayanan masyarakat), dan petualangan. Kecuali petualangan, semua kegiatan itu dilakukan minimal seminggu sekali @ 60 menit, selama 3 bulan (12 kegiatan). Kegiatan itu harus dilakukan secara rutin dan tidak boleh terputus. Apabila kegiatan itu sampai terputus, maka peserta harus mampu memberi alasan yang masuk akal (misalnya sakit atau sedang mengikuti ujian sekolah) dengan disertai bukti sah (misalnya surat dokter atau jadwal ujian). Alternatif lain dari terputusnya kegiatan yaitu peserta harus mengulang lagi kegiatan semenjak awal.

Pemilihan kegiatan-kegiatan itu sebenarnya sangat sederhana yaitu sesuai dengan hobi masing-masing. Oleh karena hobi, maka peserta diharapkan melakukan kegiatan itu dengan rela dan suka cita. Jenis kegiatan dalam IAYP erat hubungannya dengan hobi, karena untuk meneguhkan komitmen peserta dalam menjalani seluruh rangkaian program. Komitmen yang kuat akan tercermin dari tidak terputusnya jadwal kegiatan yang telah diputuskan oleh peserta sendiri. Komitmen kuat juga tercermin dari kesediaannya untuk mengulang kembali kegiatan semenjak awal, ketika jadwalnya terputus oleh alasan yang tidak masuk akal atau mengada-ada. Justru kesediaan mengulang lagi semenjak awal kegiatan yang terputus, menunjukkan motivasi yang jauh lebih besar daripada kesediaan untuk mematuhi jadwal terus menerus. Mengulang kembali ibaratnya seperti orang yang kalah namun harus mengulangi lagi pertandingan sampai ia mendapatkan kemenangan. Tidak ada orang yang mau menerima kekalahan dengan hati besar.

Untuk mendampingi peserta dalam menjalani seluruh rangkaian kegiatan IAYP, maka IAYP menyediakan seorang pemimpin (leader). Leader adalah orang dewasa usia di atas 25 tahun yang bersedia secara suka rela mendampingi menasehati, memotivasi, dan memantau peserta. Leaderjuga bisa menggagalkan kegiatan peserta kalau ia menilai bahwa peserta telah berbuat curang (dengan cara sering membuat alasan yang ‘kreatif’), atau kegiatan yang dilakukan peserta dinilai berbahaya (risiko tinggi). Tugas leader selanjutnya adalah mempromosikan peserta yang sudah menyelesaikan kegiatan IAYP kepada pimpinan IAYP Indonesia di Jakarta kemudian mendiskusikan tentang acara ‘wisuda’ atau penyematan award kepada peserta. Agar seseorang bisa menjadi leader, maka ia harus mempunyai lisensi yang diperoleh setelah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh IAYP.

Problem yang lazim muncul dari peserta IAYP adalah rendahnya komitmen terhadap jadwal yang telah ditetapkannya sendiri. Pada umumnya peserta terdorong untuk ‘kreatif’ dalam membuat alasan, sehingga jadwalnya atau janjinya yang terputus dapat dimaafkan dan ia tidak perlu mengulang lagi dari awal. Mengapa kata-kata ‘kreatif’ tersebut saya beri tanda khusus? Hal ini karena alasan-alasan yang muncul dari peserta sering kali di luar pemikiran leader, peserta bersikeras bahwa alasan mereka logis bahkan mereka bersedia secara cepat kilat memberikan bukti untuk mendukung alasan yang mereka berikan. Alasan-alasan ‘kreatif’ tersebut sering dikemukakan oleh peserta yang terpojok dan enggan untuk mengulang kembali kegiatan yang terputus itu.

Bagi peserta IAYP, problem itu nampaknya lebih mudah karena ia tinggal ‘membujuk’ paraleader agar memaafkan kesalahannya berdasarkan alasan-alasan ‘kreatifnya’. Apabila leader tidak terbujuk, maka peserta dapat ‘mengancam’ leader dengan cara mengundurkan diri secara diam-diam, menangis hebat, sedih berkepanjangan sampai depresi, dan perilaku lain yang sifatnya negatif. Seolah-olah masa depan yang suram dari peserta, adalah tanggung jawab leader semata.Leader menjadi seperti terancam secara mental, sehingga mulailah fenomena Tom and Jerry atau ancam-mengancam tidak ada akhirnya. Fenomena Tom and Jerry akan bertambah rumit serta tidak akan berakhir bila komitmen leader juga tidak kuat karena tergoda oleh pekerjaan lain yang lebih utama dan berdampak secara finansial yang melimpah.

Setelah mengalami berbagai frustrasi menghadapi perilaku ‘kreatif’ peserta IAYP serta melalui serangkaian perenungan, maka saya mempunyai beberapa pemikiran yang mencerahkan paling tidak untuk saya. Sekali lagi, pemikiran-pemikiran ini sangat rentan untuk diperdebatkan dan saya memang menunggu debatan-debatan terhadap pemikiran saya.

Saya bekerja sebagai leader IAYP berdasarkan pemikiran bahwa cara inilah yang menurut saya paling tepat untuk ‘membayar hutang-hutang saya’ pada lembaga tempat saya mengabdi. Dalam istilah ketenagakerjaan, kiat saya adalah social return atau pemanfaatan kembali segala sesuatu yang pernah saya dapatkan dari lembaga ini. Pemanfaatan kembali ini ditujukan untuk membuat lembaga menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Social return ini tidak habis-habisnya karena selain lembaga menjadi lebih baik, kondisi psikhis saya juga berkembang menjadi lebih baik (lebih matang). Oleh karena keberadaan IAYP, maka saya menjadi paham bahwa makna bekerja bagi saya adalah bermanfaat bagi lingkungan (Rachman & Savitri, 2012). Makna itu ternyata sama dengan slogan koran lokal Kedaulatan Rakyat yaitu migunani marang liyan (berguna bagi sesama).

Saya merasa munafik bila mengatakan bahwa hanya makna bekerja tersebut yang menuntun saya untuk tetap setia pada IAYP. Hal lain yang menuntun saya setia pada IAYP adalah adanya ambisi atau cita-cita pribadi yang berupa go international (ini seperti ambisinya penyanyi Agnes Monica). Bekerja secara suka rela (voluntary job) adalah seperti berjalan di jalan yang gelap dan tidak berujung. Saya tidak akan tahu kapan, di mana, dan dalam bentuk apa imbalan atau gaji (apa pun bentuknya) yang akan saya dapat dari pekerjaan suka rela itu. Berdasarkan pengalaman beberapa kali bekerja suka rela, imbalan itu saya raih secara berlimpah-ruah jumlahnya. Oleh karena itu, bekerja pada IAYP membuat saya merasa ‘melihat’ titik terang dari jalan yang nampaknya tidak berujung itu. Perasaan melihat titik terang itulah yang menjadi motivasi internal saya untuk tetap setia menjalankan kegiatan IAYP.

Lalu bagaimana dengan nasib peserta IAYP yang ‘kreatif’ membuat alasan untuk menutupi kecurangannya sehingga membuat saya frustrasi? Saya tekankan pada diri sendiri bahwa sukses adalah hak semua orang (slogannya Andrie Wongso, seorang motivator ulung), namun tidak semua orang mampu merealisasikannya. Apabila ada peserta yang mengundurkan diri secara diam-diam, berarti ia menolak berjalan bersama saya untuk mencapai ‘titik terang’ dari jalan tidak berujung ala IAYP. Harapan saya, peserta tersebut akan tercerahkan oleh pihak lainnya.

Selanjutnya bila ada peserta curang dan saya tidak mengetahuinya serta ia berhasil mendapatkan award dari IAYP, maka peserta itu harus ‘membayar kembali kecurangannya’. Istilah populernya adalah ‘aspal’ atau asli tapi palsu. Pada masa depan, ia tidak akan mampu meraih kesuksesan seperti halnya murid-murid Kurt Hahn dengan sekolah Salemnya (School of Salem Castle). Kurt Hahn adalah seorang pendidik berkebangsaan Jerman dan pendiri IAYP (Infed, 2012). Peserta IAYP yang ‘aspal’ tersebut hanya bisa sukses dengan cara curang, dan kesuksesan seperti itu tidak akan bertahan lama. Hal ini karena seleksi alam pada hakekatnya lebih kuat daripada seleksi ala IAYP. Peserta IAYP yang ‘aspal’ tersebut sesungguhnya memalukan saya dan lembaga tempat saya mengabdi. Ia akan ditanya oleh peserta IAYP yang serius tentang identiasleader-nya. Menghadapi hal yang memalukan semacam ini, saya haya bisa menghela nafas panjang dan bergumam bahwa penentu kesuksesan atau kegagalan seseorang adalah dirinya sendiri. IAYP hanya sekedar sarana saja.

Apa hubungan antara fenomena Tom and Jerry dengan peserta IAYP yang aspal? Fenomena Tom and Jerry yang merupakan peristiwa saling jegal yang tidak berkesudahan telah menginspirasi saya untuk selalu mengembangkan kepekaan tentang perilaku curang. Perilaku curang hasil ‘kreativitas’ peserta IAYP akan selalu berkembang sesuai dengan kemajuan jaman. Oleh karena itu, saya akan lebih menekuni psikologi gara-gara IAYP. Terima kasih IAYP.

Daftar pustaka:

Infed (2012). Kurt Hahn. Diakses tanggal 6 Januari 2012 dari: http://www.infed.org/thinkers/et-hahn.htm

Rachman, E. & Savitri, S. (2012). Menciptakan makna dalam kerja. Kompas, 5 Januari hal. 33.

MEWUJUDKAN MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

Oleh Toni Isbandi

Leader IAYP

Yogyakarta

talkshow iayp

Seiring dengan berjalannya waktu tuntutan menjadi orang yang sukses dan mapan dalam menjalani kehidupan ini, dimana kita bisa belajar banyak hal dengan akses yang luar bisaa banyak menjadi obsesi yang demikian besar seingga mendorong manusia untuk bisa melakukan apa saja agar mencapai status tersebut. Tuntutan dan melihat kemapanan orang lain , menjadikan  manusia untuk mencapa I hal tersebut kadang-kadang menghalalkan segala cara sehingga kalau perlu mengorbankan orang lain dalam mencapai. Ada istilah yang popular dan sering menjadi bahan bercanda dinatara saya dan teman-teman, yaitu kalau orang miskin berpikir hari ini makan apa, sedang orang kaya berpikir sekarang makan siapa.

 Akibat dari obsesi tersebut banyak orang khususnya di Indonesia, telah mencapai jabatan tinggi dengan tingkat kemapanan hidup terbilang sangat tinggi. Namun pencapaian tersebut justru dicapai dengan hal-hal buruk yang sekarang biasa disebut korupsi. Dan parahnya orang-orang  tersebut justru mempunyai tanggungjawab terhadap pemberantasan korupsi  itu sendiri. Dapat dibayangkan betapa sulitnya memberantas korupsi tersebut. Karena pelaku justru para manusia yang berseragam, terhormat dan menjadi pejabat Negara dibayar dari uang rakyat yang disetor lewat pembayaran yang disebut pajak.

Pertanyaannya adalah “apakah agama sudah dilupakan oleh mereka”. Ataukah mereka hanya ingat agama kalau mereka sholat atau lagi ikut pengajian. Ah jadi teringat satu orang lagi yang selalu menggebu-gebu kalau membicarakan kondisi saat ini dan pada akhirnya memberikan banyak inspirasi  sehingga saya tidak perlu susah payah membaca literature untuk mengetahui hal-hal yang menarik untuk disimak sebagai bahan menganalisa kondisi yang sedang terjadi saat ini. Dia mengatakan, “mas saat ini banyak masyarakat di sekitar kita ini kalau dipandang dari sudut agama gak ada celanya, namun prakteknya banyak dari mereka justru menyebabkan orang lain tidak dapat menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai orang yang taat Bergama”.  Sehingga kata dia lagi masyarakat kita saat ini “agama nomor satu, namun kelakuan nomor dua”

Kemudian saya berpikir apa yang salah, apakah memang antara agama dan perilaku hidup kita saat ini gak nyambung, atau memang sulitnya mencerna apa yang ada pada makna-makna yang ada dalam agama tersebut sehingga akan dianggap orang soleh kalau kita sudah dapat melaksanakan apa yang ada dalam rukun tersebut, namun lupa menerapkannya dalam kelakuan bersosial. Kesimpulannya adalah secara vertical sudah mendekati sempurna namun secara horinsontal masih jauh dari sempurna. Ironisnya ada angapan kalau mereka berbuat dosa misalnya korupsi, mereka merasa dapat menghapus dosanya kalau menyisihkan sebagian dari hasil korupsi  untuk berzakat dan bersedekah. He .. he… sungguh naïf sekali. Apalagi ada seorang ustadz yang cukup terkenal memanfaat kondisi dengan mengajak mereka untuk melakukan hal tersebut denga judul dahsyatnya zakat. Sehingga dengan melakukan hal tersebut seolah-olah apapun yang dilakukannya akan terhapus dosa-dosanya. Jadi teringat surat pengakuan dosa yang hanya bisa dibeli oleh orang-orang kaya.

Kembali kepertanyaan, apa yang salah? Yah …. Mereka orang yang pinter dan cerdas dan telah bekerja keras sehingga bisa mencapai kesuksesan yang tinggi. Kenapa begitu. Kenapa mereka tega melakukan hal tersebut meskipu n harus menyakiti dan membuat menderita banyak orang. Jawabannya adalah mereka belum mempunyai hati yang baik. Sehingga apa yang mereka lakukan dianggap sah-sah saja.

Kenapa banyak masyarakat kita belum mempunyai hati yang cukup baik dan tidak mampu mensinergikan dengan karunia Tuhan lainnya berupa kecerdasan dan kesehatan sehingga mereka bisa bekerja keras untuk meraih kesuksesan di dunia. Ya… mungkin karena untuk mempunyai hati yang baik itu karena tidak ada sekolahnya atau tidak ada lembaga yang menawarkan, kami bisa menghasilkan manusia yang berhati mulia.

Bagaimana di UP45 yang kita cintai ini, adakah program yang dapat  membuat seseorang berhasil mempunya tiga kecerdasan yang yang disebut diatas, sehingga dapat mencapai kesuksesan dengan pondasi hati yang mulia sehingga apabila dia menghasilkan sesuatu tidak hanya bermanfaat bagi dirnya namun juga bermanfaat bagi banyak orang dan lingkungannya.

UP45 sejak 2010 telah mencanangkan untuk membangun karakter para mahasiswanya mempunyai standart berskala internasional dengan mengembangkan system yang dipakai di 135 negara di dunia, yaitu dengan mengembangkan International Award for Young People (IAYP). Program ini menantang para pemuda untuk merencanakan hidupnya dengan dengan lima aktivitas.

  1. Keterampilan
  2. Rekreasifisik
  3. Aktivitas sosial
  4. Petualangan
  5. Ekspedisi

Tiga kegiatan teratas merupakan aktivitas yang harus rutin dilakukan sehingga para peserta bisa mepunyai kecerdasan kalau mereka mengasah keterampilannya,  mempunyai fisik kuat kalau mereka berolah raga dan mempunyai hati yang baik kalau mereka mempunyai aktifitas social. Program IAYP ini memberikan keseimbangan pada pembangunan karakter kepemudaan. Program Ini menyediakan kerangka kegiatan untuk mendorongkegiatan fisik, tantangan mental, ketekunan individu, kerja tim dan interaksi dengan orang lain. Sehingga diharapkan dimasa yang akan datang tersedia SDM yang tidak cerdas dan kuat namun juga mempunyai keikhlasan dalam menjalan amanah yang mereka emban.

Dan para peserta ini menjadi bagian dari suatu komunitas yang telah ada sejak tahun 1950 dengan alumni mencapai ribuan orang yang tersebar diseluruh dunia. Suatu komunitas yang mempunyai persamaan karakter dalam kinerja, motivasi dan toleransi dalam mencapai prestasi. Pencapaian yang didasari dengan etikan dan estika yang tinggi.

Namun program ini bukan mengajak untuk melupakan agama sebagai cahaya penuntun hidup, malah program ini merupakan sisi penerapan kauniya agama itu sendiri. He..he… Kayak ustadz saja, memang siapa kamu…?

Namun program ini merupakan perpaduan antara mencapai kesuksesan di dunia dan selamat di akherat. Sehingga setiap anggotanya akan ditantang untuk merencanakan hidupnya (mencapai sukses) dengan melakukan keterampilan (mengasah kecerdasan intelektual), rekasi fisik (mengasaha kecerdasan emosional) dan melakukan pelayanan social (mengasah kecerdasan spiritual).

WP_000307_Fotor_CollageDi UP45 telah ada beberapa mahasiswa yang telah ikut program IAYP ini, komunitas ini telah melakukan aktivitas yang sifatnya Individual maupun berbareng dengan mengadakan kegiatan pada selasa, kamis dan sabtu setiap jam 8 pagi. Kegiatan ini merupakan merupakan kegiatan yang saling berhubungan, dimana pada kamis mereka menghasilkan tulisan dan mendapat bimbingan dalam menulis dari beberapa dosen dan orang yang berkopeten dibidang penulisan. Kemudian hasil tulisan ini akan dipresentasikan dan diskusi pada hari sabtu memakai bahasa inggris. Dan pada hari selasa didampingi agar karya mereka menjadi karya yang bisa dimuat di media atau bisa dijadikan proposal kegiatan yang mampu menghasilkan sesuatu manfaat. Disinilah kegiatan ini dilakukan agar mereka menjadi SDM yang bisaa disebut human social entrepreneurship. Insa’allah.

Ayo bergabung dengan komunitas ini, untuk bersama berinteraksi dan bersilahturami membangun masa depan yang lebih baik. (Toni)

Antusias Peserta IAYP : Melahirkan Jiwa Kepemimpinan

oleh : Sulfi Amalia
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Seminar nasional Penyelenggara Centre for Islamic and Indigenous Psychology

Sebagai seorang pemimpin, pastilah ia akan dijadikan panutan bagi orang lain. Untuk itu, sebagai panutan harusnya ia memiliki sikap dan tindakan yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang yang dipimpinnya. Semua itu akan terwujud dengan adanya karakter yang baik dalam jiwa seseorang yang menjadi pemimpin tersebut. Tentunya, kriteria pemimpin yang diidamkan oleh banyak orang adalah pemimpin yang peduli, tangguh, bertanggung jawab, dan tegas.

Sebagai generasi penerus bangsa, para pemuda haruslah memiliki jiwa kepemimpina tersebut dalam dirinya. Pada generasi mudalah bangsa ini mempercayakan nasib tanah airnya. Hal ini disebabkan karena biasanya para generasi mudah masih memiliki semangat dan etos kerja yang sangat tinggi.

Setiap orang memang harus memiliki keinginan yang tinggi, selayaknya kita sebagai bangsa mengharapkan para pemuda yang bisa menjadi pemimpin yang luar biasa. Tak dapat dipungkiri bahwa terkadang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan. Jika kita lihat jaman sekarang, tak sedikit para pemuda generasi penerus bangsa yang tidak memiliki karakter yang baik. Kita lihat saja dalam kalangan mahasiswa. Juga tak sedikt mahasiswa yang sering bolos kuliah, penampilan urak-urakan, dan pantang belajar walaupun ujian. Melihat kenyataan yang ada, tentu sangat miris sekali mengamati banyaknya mahasiswa yang tak berkarakter tersebut. Jika dibiarkan terus-menerus, maka potensi para pemuda untuk menjadi seorang pemimpin yang baik akan terancam. Untuk itu, dibutuhkan usaha yang ekstrim untuk dapat mencegah hal tersebut terjadi.

Di sebuah universitas swasta di Yogyakarta, yaitu Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, terdapat sebuah program yang sangat erat dengan pembentukan karakter. Program tersebut adalah IAYP. IAYP merupakan singkatan dari International Award for Young People. IAYP adalah suatu program yang berperan dalm pendidikan karakter yang berlaku bagi para pemuda usia 14 sampai 15 tahun. IAYP ini merupakan program pendidikan karakter yang bertaraf internasional, pusatnya ada di Inggris, yang dipimpin langsung oleh Pangeran Philips, suami dari Ratu Elizabeth II.Program IAYP terdiri atas empat macam kegiatan, yaitu olah raga, ketrampilan, pelayanan masyarakat, dan petualangan.Adapun tingkatannya ada tiga, mulai dari Award Perunggu, Award Emas, hingga ke Award Emas. Kegiatan IAYP tersebut dipantau oleh seorang leader dan insturktur. Hal ini diharapkan agar mahasiswa dapat berkonsultasi apa saja kegiatan yang dilakukan dalam IAYP tersebut.

Proses mahasiswa IAYP untuk dapat memiliki jiwa kepemimpinan adalah ketika ia harus melawan diri sendiri. Ia harus bisa berjuang melawan rasa malas dan lelah, sehingga membuat ia menunda untuk melakukan kegiatan IAYP. Mahasiswa yang sangat antusias melakukan IAYP, lambat laun ia akan merasa dan sadar bahwa apa yang ia lakukan dalam kegiatan IAYP setiap minggunya adalah bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebiasaan dan kebutuhan. Hal itu dapat membuat mahasiswa melakukan kegiatan tersebut bukan karena penghargaan, melainkan karena itu merupakan kebutuhan untuk membentuk karakter yang baik. Betapa sangat dibutuhkan karakter tersebut saat kita akan menjadi pemimpin, baik pemimpin diri sendiri, maupun pemimpin orang lain. Sebagai seorang pemimpin, tentunya harus melakukan sesuatu bukan karena untuk memperoleh pujian atau penghargaan dari orang lain, melainkan karena ia sadar bahwa apa yang ia lakukan merupakan sesuatu yang memang dibutuhkan baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Hello world!

THE INTERNATIONAL AWARD FOR YOUNG PEOPLE

MOU - IAYP - Copy

The Award Programme was first introduced by HRH Prince Philip in the United Kingdom in 1956 as the Duke of Edinburgh’s Award. The Award is an individual challenge which encourages personal discovery and growth, self-reliance, perseverance, responsibility, as well as service to their community. To date there are more than 7,000,000 participants from 136 countries that have participated in the Award. For further information about the International Award for Young people worldwide, please go to International Award.

The participation age is between 14 and 25 years. The Award consists of 4 Sections which are; Service, Adventurous Journey, Skills and Physical Recreation. There are 3 levels of the Award – Bronze, Silver, and Gold. At Gold level, participants are required to undertake a Residential Project.